SEPAK BOLA DARI MASA KE MASA

Posted: Juli 11, 2010 in sepak bola

Satu bulan sudah sejak pembukaannya tanggal 10 Juni 2010, perhelatan pesta akbar bernama Piala Dunia di gelar di “rumah” Nelson Mandela. Afrika Selatan yang notabene merupakan tuan rumah Piala Dunia pertama di tanah Afrika, jauh-jauh hari telah mempersiapkan segala fasilitas penunjang Piala Dunia. Semua rakyat Afrika Selatan bersatu membangun berbagai kelengkapan sarana dan prasarana sebagai persyaratan sebagai tuan rumah Piala Dunia.

Terlepas dari usaha besar yang dilakukan Afrika Selatan dalam mempersiapkan Piala Dunia, kini semua mata pecinta sepak bola tertuju pada pertandingan final antar Belanda “sang juara tanpa piala” melawan Spanyol “sang Matador”. Langkah kedua Negara untuk melaju ke partai final tidaklah mudah, di perempat final Belanda harus mengalahkan Brasil dan mengalahkan Uruguay di Semifinal. Sedangkan Sang Matador Spanyol harus mengalahkan Jerman di partai semifinal.

Apabila Kita flash back kembali ke beberapa Piala Dunia sebelumnya, terdapat beberapa perbedaan yang mencolok tentang sepak bola. Dulu, orang beranggapan bahwa Sepak bola adalah Keindahan. Sehingga Sepak bola dapat dinikmati sebagai sebuah hiburan yang indah. Lihatlah legenda sepak bola Brasil, Pele “si Mutiara Hitam”. Ketika Pele memainkan bola ia terlihat seperti seorang “penari” samba, ia berhasil menyulap lapangan hijau menjadi “panggung seni”. Dan aksi Pele dilapangan hijau pun selalu dinanti oleh pecinta sepak bola di seantero jagat raya. Itulah prinsip yang selalu dipegang oleh pemain sepakbola Brasil sehingga Brasil dikenal sebagai “ sang Pemenang Sejati ” walau dalam keadaan kalah sekalipun.

Selain Pele, Kita juga tentu mengenal kepiawaian legenda sepakbola Argentina Diego Maradona. Lihatlah bagaimana Maradona berhasil melewati lima pemain lawan termasuk sang penjaga gawang sebelum akhirnya menyarangkan bola ke gawang lawan. Maradona pun dipuja bak Dewa karna keindahan sepak bola yang dimainkannya.

Belanda, Negara yang belum pernah merasakan gelar Piala Dunia pun mendapatkan julukan “ sang Juara tanpa Piala “ karna keindahan sepakbola Total Football yang di mainkannya.

Beberapa waktu kemudian, orang mulai beranggapan bahwa sepakbola adalah kemenangan. Karena itu kemenangan dihargai setinggi langit, sedangkan kekalahan dicampak ke dasar jurang yang paling dalam.

Di Italia, Negara pemenang Piala Dunia 2006 Kita mengenal skandal Calciopoli. Sebuah skandal pengaturan skor yang melibatkan beberapa tim besar liga Italia demi sebuah kemenangan.

Lihatlah aksi Luis Suarez sang bintang Uruguay yang menciderai sportivitas dalam sepak bola dengan menggunakan tangannya untuk mencagah gol yang dilesakan oleh pemain Ghana dalam partai Perempatfinal Piala Dunia 2010. Dan celakanya aksi Suarez itu seolah dibenarkan oleh rakyat Uruguay demi sebuah kemenangan yang akhirnya mengantarkan Uruguay ke semifinal sebelum akhirnya langkah mereka dihentikan oleh tim Belanda di partai Semifinal. Sepakbola tidak lagi bisa dinikmati sebagai keindahan, melainkan sudah menjadi ambisi kemenangan dengan cara apapun. Hingga akhirnya Kekalahan dan kemenangan dianggap mewakili harga diri bangsa.

Menggali Jejak Teknologi Komunikasi

Posted: Juni 20, 2010 in humor

Sekitar tahun 2005 silam, Tim National Geographic (NG) yang beranggotakan 11 orang arkeolog melakukan sebuah penelitian di 3 negara yang dianggap berpengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di dunia.
Penelitian tersebut bertujuan untuk mencari asal-usul dan penggunaan teknologi komunikasi pada zaman baheula.

Negara pertama yang dikunjungi oleh tim NG adalah China. Singkat cerita, terhitung sejak 3 hari dari kedatangannya, mereka menemukan sebuah rangkaian tembaga persis seperti jaringan telepon yang umum digunakan saat ini dengan panjang sekitar 1 Km di dalam tanah.

Mereka takjub dan sangat gembira karena telah menemukan peninggalan jaringan telekomunikasi yang diperkirakan telah berusia lebih dari 100 abad.

Berdasarkan temuannya itu, tim NG menyimpulkan bahwa China merupakan bangsa yang telah menggunakan teknologi komunikasi moderen sejak zaman dahulu .

Masih dalam suasana gembira, merekapun beralih ke negara India dengan tujuan yang sama. Pada lokasi penelitian yang sudah ditentukan mereka pun mulai menggali lokasi penelitian hingga kedalaman 5 meter.

Di negaranya Shah Rukh Khan ini, tim yang beranggotakan 5 orang laki-laki, 5 orang perempuan, ditambah satu orang yang tidak jelas jenis kelaminnya itu menemukan rangkaian tembaga yang tersambung hingga jarak 50 Km dan diperkirakan telah berumur lebih dari 500 abad.

Singkat kata, berdasarkan temuannya tersebut, mereka pun menyimpulkan bahwa India telah terlebih dahulu mengenal teknologi komunikasi moderen ketimbang China.

Memang dasar peneliti, sudah mendapat penemuan tapi masih belum puas juga, dan akhirnya mereka pun berangkat menuju negara terakhir yang sudah menjadi target penelitiannya, yaitu Indonesia.

Tanpa membuang waktu, setibanya di negara kepulauan itu tim NG langsung menggali area penelitian hingga kedalaman 10 meter tetapi belum menemukan tanda-tanda yang menggembirakan seperti halnya yang mereka temukan di kedua negara sebelumnya.

Karena masih penasaran, mereka pun memutuskan untuk melakukan penelitian di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tanpa terasa penelitian mereka sudah memasuki hitungan bulan dan masih belum juga menemukan rangkaian seperti sebelumnya.

Akhirnya tim NG yang sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan melakukan penelitian itu merasa kagum pada Indonesia karena tidak menemukan apapun.

Kemudian mereka menarik kesimpulan bahwa Indonesia lebih hebat dari China dan India dalam hal teknologi komunikasi.

Mereka semua sepakat dan yakin bila Indonesia sudah menggunakan teknologi nirkabel (wireless) sejak zaman purbakala.

Pendidikan Berbasis Karakter

Posted: Juni 20, 2010 in pendidikan

Berbagai fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah. Penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan, tetapi buta pada keadilan.
Sepertinya karakter masyarakat Indonesia yang santun dalam berperilaku, musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong royong, telah berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan. Apakah pendidikan telah kehilangan sebagian fungsi utamanya? Berkaca pada kondisi ini, sudah sepantasnya jika kita bertanya secara kritis, inikah hasil dari proses pendidikan yang seharusnya menjadi alat transformasi nilai-nilai luhur peradaban? Jangan-jangan pendidikan telah teredusir menjadi alat yang secara mekanik hanya menciptakan anak didik yang pintar menguasai bahan ajar untuk sekedar lulus ujian nasional. Kalau betul begitu, pendidikan sedang memperlihatkan sisi gelapnya.
Padahal, pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan mengembangkan karakter. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, tangguh peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sebaliknya, jika mayoritas karakter masyarakat negatif, karakter negatif dan lemah mengakibatkan peradaban yang dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat lemah.
Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi, masyarakat yang memiliki sifat jujur, mandiri, bekerja-sama, patuh pada peraturan, bisa dipercaya, tangguh dan memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik. Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal, kekerasan, terorisme dan lain-lain.
Oleh karena itu, pendidikan harus terus didorong untuk mengembangkan karakter bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat sehingga pada gilirannya bangsa Indonesia akan mampu membangun peradaban yang lebih maju dan modern. Menurut M Dawam Raharjo, peradaban modern dibangun dalam empat pilar utama, yakni induk budaya (mother culture) agama yang kuat, sistem pendidikan yang maju, sistem ekonomi yang berkeadilan serta majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis. Sebenarnya keempat pilar tersebut sudah dimiliki Indonesia, tinggal bagaimana keempat hal tersebut berjalan secara fungsional melalui pendidikan.

Mengembangkan karakter
Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku. Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah dirumuskan secara berbeda.
Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam setiap individu bangsa Indonesia di antaranya; cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya, tanggung jawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan toleransi, cinta damai dan persatuan.
Sementara itu, character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah; dapat dipercaya (trustworthiness), rasa hormat dan perhatian (respect), tanggung jawab (responsibility), jujur (fairness), peduli (caring), kewarganegaraan (citizenship), ketulusan (honesty), berani (courage), tekun (diligence) dan integritas.
Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai universal. Oleh karena itu, pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan yang bisa membantu mengembangkan sikap etika, moral dan tanggung jawab, memberikan kasih sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. Hal itu merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah, masyarakat dan negara untuk mengisi pola pikir dasar anak didik, yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain, sikap bertanggung jawab, integritas, dan disiplin diri. Hal itu memberikan solusi jangka panjang yang mengarah pada isu-isu moral, etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis karakter siswa. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan pengembangan karakter melalui pengambilan perspektif, pertimbangan moral, pembuatan keputusan yang matang, dan pengetahuan diri tentang moral.
Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum, juga yang tidak kalah penting adalah adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan, seperti kejujuran, kesopanan, keberanian, ketekunan, kesetiaan, pengendalian diri, simpati, toleransi, keadilan, menghormati harga diri individu, tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lain-lain.
Lebih spesifiknya, menurut Dr Thomas Lickona, pendidikan yang mengambangkan karakter adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti, memedulikan, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Anak didik bisa menilai mana yang benar, sangat memedulikan tentang yang benar, dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai yang benar–walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam.

Peranan lingkungan
Sementara itu, upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat ‘istana pasir di tepi pantai’. Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik, tetapi begitu anak keluar dari lingkungan sekolah, ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah dibangun di sekolah. Oleh karena itu, perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak didik yang kuat, baik, dan positif secara konsisten.
Lingkungan masyarakat, para pemimpin, pembuat kebijakan, pemegang otoritas di masyarakat, orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada anaknya. Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa.
Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan karakter siswa. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya lulus UN. Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan dan sistem yang berbasis pada model reward and punishment. Model seperti itu hanya akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas, tapi hanya sedikit bahkan tidak memberikan pengaruh pada pembentukan karakter anak untuk jangka panjang.
Bahkan kalau kita amati pada tataran pelaksanaan UN di lapangan, begitu banyak praktik penyelewengan dan kecurangan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri. Hal itu justru yang akan merusak karakter anak didik yang sudah sekian lama diusahakan dibangun dalam lingkungan sekolah. Hilangnya nilai-nilai kejujuran, integritas, dapat dipercaya adalah harga yang harus dibayar dalam praksis pendidikan yang menegasikan karakter positif anak didik.
Saya sepakat dengan character education quality standards yang merekomendasikan bahwa pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika dijadikan sebagai basis pendidikan, menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang peduli, baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan yang mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada nilai dasar yang diusung bersama-sama.

Oleh Aan Hasanah, Pengamat pendidikan dan dosen UIN Bandung

Membangun manusia Indonesia adalah membangun masyarakat yang berkarakter dan memiliki pemikiran positif yang dibangun sejak usia dini. Pendidikan karakter akan lebih cepat ketika didukung oleh pemerintah dan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional.

Hal itu diungkapkan budayawati Prof Conny R Semiawan dalam diskusi di Komisi C Simposium ‘Restorasi Indonesia’ Nasional Demokrat di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (2/6).

Menurut Conny, pendidikan karakter harus dibangun sejak janin masih ada di dalam kandungan. Kemudian dilanjutkan oleh sistem pendidikan untuk membangun karakter kebangsaan. Sehingga, lanjutnya, akan terbentuk pribadi manusia Indonesia yang berkomitmen untuk tidak melakukan perbuatan demi kepentingan yang hanya menunjang kesejahteraan segelintir elite saja.

“Harus ada evaluasi juga atas penguasa saat ini. Penguasa sekarang lebih mengacu pada pemikiran to have’ bukan to be. Ada udang di balik batu,” cetus Conny.

Pendidikan karakter sejak dini, tambahnya, agar karakter menjadi pola pikir yang dimulai dari diri sendiri. Sehingga manusia yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan dan juga kebinatangan, bisa menekan sifat kebinatangannya itu tidak muncul ke permukaan.

Dia menyebutkan, dengan masuknya pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah akan mempercepat sosialisasi pendidikan karakter. Termasuk dengan melakukan sosialisasi kepada para orang tua muda karena pendidikan karakter tidak hanya dilakukan di sekolah, tapi juga dari rumah dan lingkungannya.

Pendidikan karakter, ungkapnya, akan memproses sifat-sifat kemanusiaan, memunculkan keikhlasan, dan menonjolkan kebajikan. Pendidikan karakter ini sangat penting karena pembentukan karakter paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan, selain faktor genetis bawaan.

Pendidikan karakter pun harus terjadi dengan cara disengaja dan menjadi gran design dari Kementerian Pendidikan Nasional. Walaupun secara prinsip psikologis, anak-anak muda yang dididik karakternya harus tidak merasa bahwa pemerintah sedang mendidik karakternya. “Karakter yang baik akan menciptakan lingkungan sosial yang harmonis, walaupun kita harus menghadapi manusia yang berbeda-beda,” jelas Conny.

Sementara Romo Franz Magnis Suseno yang juga menjadi pembicara menyatakan sejak dulu bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkarakter. Bahkan dalam dunia pendidikan luar negeri, mahasiswa Indonesia selalu menjadi penengah dari konflik yang terjadi antar mahasiswa.

Tapi kini, ujarnya, karakter bangsa terancan karena konsumerisme hedoniatik yang menghinggapi para pemimpin bangsa. Akibatnya banyak yang lupa pada bangsanya sendiri. “Contoh sederhana adalah masalah Lumpur yang tidak pernah bisa diselesaikan,” tegas Romo Franz.

Karakter, ungkap Romo Franz, adalah sikap seseorang yang memiliki keyakinan dan bertindak atas keyakinannya. Ia mengkhawatirkan tergerusnya karakter bangsa yang tertuang dalam falsafah Pancasila oleh banyak faktor. Misalnya keterbukaan dan toleransi yang terancam oleh fanatisme dan kepicikan. Termasuk tekad untuk selalu membawa diri secara beradab yang terancam oleh kebiadaban dan kekerasan.

E-mail Salah Kirim

Posted: Juni 20, 2010 in humor

SEPASANG suami isteri setengah baya yang sama-sama dari kalangan profesional merasa penat dengan kesibukan di ibukota. Mereka memutuskan untuk berlibur di Bali.
Mereka akan menempati kembali kamar hotel yang sama dengan ketika mereka ber-honey moon saat menikah 30 tahun yang lalu. Karena kesibukannya, sang suami harus terbang lebih dahulu tanggal 17 Juli 2007 dan isterinya baru menyusul keesokan harinya.
Setelah check in di hotel di Bali, sang suami mendapati pesawat komputer yang tersambung ke internet telah terpasang di kamarnya. Dengan gembira ia menulis e-mail mesra kepada isterinya di kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta.
Celakanya, ia salah mengetik alamat e-mail isterinya dan tanpa menyadari kesalahannya ia mengirimkan e-mail tersebut.
Di lain tempat di daerah Cinere Jakarta, seorang wanita baru kembali dari pemakaman suaminya yang baru saja meninggal. Setibanya di rumah, ia
langsung mengecheck e-mail untuk membaca ucapan-ucapan belasungkawa.
Baru saja selesai membaca e-mail yang pertama, ia langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri. Anak sulungnya yang terkejut kemudian membaca e-mail tersebut (tak lama kemudian jatuh pingsan juga), yang bunyinya :

To: Isteriku tercinta

Subject: Papah sudah sampai Mah !!!

Date: 17 Juli 2007

Aku tahu pasti kamu kaget tapi seneng dapat kabar dariku. Ternyata disini
mereka udah pasang internet juga, katanya biar bisa berkirim kabar buat
orang-orang tercinta di rumah.

Aku baru sampai dan sudah check-in. Katanya mereka juga sudah mempersiapkan segalanya untuk kedatanganmu besok. Nggak sabar deh rasanya nungguin kamu.

Semoga perjalanan kamu kesini juga mengasyikkan seperti perjalananku kemaren.

Love you Mom,
Papah

PS: Disini lagi panas-panasnya ! Kalau pada mau, anak-anak diajak aja!!!
By : http://www.rakyatmerdeka.co.id/humor/hal/3/view/18/E-mail-Salah-Kirim

Untuk lebih mengenal peserta didik, maka Kami akan menjelaskan karakteristik peserta didik berdasarkan perkembangan-perkembangannya. Ada 7 perkembangan yang akan dibahs, diantaranya adalah :

1. Perkembangan Intelektual

Pada usia sekolah dasar (6-12 tahun) anak sedah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti membaca, menulis dan menghitung).

Periode ini ditandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan baru, yaitu mengklasifikasikan (mengelompokkan), menyusun, atau mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan. Pada akhir masa ini, anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana.

Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya.

Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak, maka sekolah dalam hal ini guru seyogyanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pertanyaan, memberiakan komentar atau pendapatnya tentang materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru.

2. Perkembangan Bahasa

Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara berkomunikasi , dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar atau lukisan. Dengan bahasa, semua manusia dapat mengenali dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.

Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata, dan pada akhir masa (usia 11-12 tahun) telah dapat menguasai 50.000 kata (Abin Syamsudin M, 1991; Nana Syaodih S, 1990). Dengan dikuasainya keterampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, anak sudah gemar membaca atau mendengarkan cerita yang bersifat kritis.

3. Perkembangan Sosial

Maksud perkembangan social ini adalah pencapaian kematangan dalam hubungan social. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral. Pada usia ini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif. Berkat perkembangan social, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebaya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar disekolah, kematangan perkembngan social ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok. Tugas-tugas kelompok ini harus memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk menunjukkan prestasinya, tetapi juga diarahkan untuk mencapai tujuan bersama.

4. Perkembangan Emosi

Menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Oleh karena itu, dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosinya diperoleh anak melalui pembiasaan dan peniruan. Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh.

Emosi merupakan factor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif, akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar. Sebaliknya, apabila yang menyertai prose itu emosi negative maka proses belajar akan mengalami hambatan.

Upaya yang dapat dilakukan oleh guru agar proses belajar dan pembelajaran menjadi kondusif :

1. Mengembangkan iklim kelas yang bebas dari ketegangan.

2. Memperlakukan peserta didik sebagai individu yang mempunyai harga diri.

3. Memberikan nilai secara objektif.

4. Menghargai hasil karya peserta didik.

5. Perkembangan Moral

Anak mulai mengenal konsep moral pertama kali dari lingkungan keluarga. Usaha menanamkan konsep moral sejak usia dini merupakan hal yang seharusnya, karena informasi benar salah atau baik buruk akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya dikemudian hari.

6. Perkembangan Penghayatan Keagamaan

Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaannya ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Sifat keagamaan bersifat resptif disertai dengan pengertian.

2. Pandangan dan paham ketuhanan diperoleh secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indicator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.

3. Penghayatan secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.

Kualitas keagamaan anak akan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya. Berkaitan dengan hal tersebut, pendidikan agama di sekolah dasar mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, pendidikan agama di sekolah dasar harus menjadi perhatian semua pihak yang terlibat dalam pendidikan di SD.

7. Perkembangan Motorik

Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada masa ini ditandi dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik.

Sesuai dengan perkembangan fisik (motorik) maka dikelas-kelas permulaan sangat tepat diajarkan :

a. Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar.

b. Keterampilan dalam mempergunakan alat-alat olahraga.

c. Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dan sebagainya.

d. Baris berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan, ketertiban dan kedisiplinan.

Perkembangan Anak

Posted: Juni 20, 2010 in psikologi

Perkembangan anak berdasarkan pendapat para Ahli :

1. Menurut Aristoteles :

– Periode anak kecil, usia sampai 7 th

– Periode anak sekolah, usia 7 – 14 th

– Periode pubertas (remaja), usia 14 – 21 th

Peralihan masa pertama ke kedua ditandai pergantian gigi. Peralihan masa kedua ke ketiga ditandai tumbuhnya bulu-bulu menjelang masa remaja

2. Menurut Comenius:

-Masa sekolah ibu, sampai usia 6 th

-Masa sekolah bahasa ibu, usia 6 – 12 th

-Masa sekolah bahasa Latin, usia 12 – 18 th

-Masa sekolah tinggi, usia 18 – 24 th

3. Menurut Kohnstamm

• Masa vital (penyusu), sampai 1½ th

• Masa anak kecil (estetis), 1½ – 7 th

• Masa anak sekolah (intelektual), 7-14 th

• Masa remaja, usia 14 – 21 th

• Masa dewasa (matang), usia 21 th ke atas

4. Menurut Jean Piaget

• Fase sensori motorik Pengalaman langsung panca indera, blm menggunakan bahasa

• Fase pra operasional Suka meniru, mampu menerima khayalan, suka cerita ttg hal fantastik

• Fase operasi konkret Berpikir mulai logis. Berpikir harafiah sesuai dgn tugas yg diberikan

• Fase operasi formal Mengembangkan pola berpikir formal, logis, rasional dan abstrak Keterkaitan antara Pertumbuhan dan Perkembangan. Pertumbuhan berkat pematangan fungsi-fungsi fisik, Pematangan fungsi-fungsi psikis, Untuk optimalisasi potensi individu diperlukan proses belajar.