Hubungan Interpersonal

Posted: Juni 20, 2010 in psikologi

Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita pahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. “ Komunikasi Interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting, “ tulis Anita Taylor et al. (1977:187). Setiap kali kita melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekadar menyampaikan isi pesan: kita juga menentukan kadar hubungan interpersonal.

Arnold P. Goldstein (1975) mengembangkan apa yang disebut sebagai “relationalship-enchancement methods “ (metode peningkatan hubungan) dengan psikoterapi. Ia merumuskan metode ini dengan tiga prinsip : Makin baik hubungan interpersonal, (1) makin terbuka pasien mengungkapkan perasaannya, (2) makin cenderung ia meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya (psikolog), dan (3) makin cenderung ia mendengar dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasihat yang diberikan penolongnya. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentag orang lain dan persepsi dirinya, sehingga semakin efektif komunikasi yang berlangsung di antara komunikan.

Teori-Teori Hubungan Interpersonal

1. Model pertukaran social

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu memenuhi kebutuhannya. Asumsi dasar yang mendasarinya adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan social selama hubungantersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.

Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Biaya adalah akibat yang dinilai negative yang terjadi dalam suatu hubungan. Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidka memperoleh laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba. Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku yang dipakai sebagai criteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.

2. Model peranan

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan perannya sesuai “naskah” yang telah dibuat masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspektasi peranan dan tuntutan peranan, memiliki keterampilan peranan, dan terhindar dari konflik peranan dan kerancuan peranan.

Ekspektasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas, dan hal yang berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok. Tuntutan peranan adalah desakan social yang memaksa individu untuk memenuhi peranan yang telah dibebankan kepadanya. Keterampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.konflik peranan terjadi bila individu tidka sanggup mempertemukan berbagai tuntutan peranan yang kontraduktif. Kerancuan peranan terjadi bila individu berhadapan dengan situasi ketika ekspektasi peranan tidak jelas baginya.

3. Model permainan

Dalam model ini, orang-orang berhubungan dengan bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah orang tua, orang dewasa, dan anak. Orang tua adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang kita terima dari orang tua kita atau orang yang kita anggap orang tua kita. Orang dewasa adalah bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional, sesuai dengan situasi, dan biasanya berkenaan dengan masalah-masalah penting yang memerlukan pengambilan keputusan secara sadar. Anak adalah unsure kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak dan mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas, dan kesenangan.

4. Model interaksional

Modle ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu system. Setiap system memiliki sifat-sifat structural, integrative, dan medan. Hubungan interpersonal dpat dilihat sebagai system dnegan sifat-sifatnya. Untuk menganalisanya kita harus melihat pada karakteristik individu-individu yang terlibat, sifat-sifat kelompok, dan sifat-sifat lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s