Pendidikan Karakter Harus Sejak Dini

Posted: Juni 20, 2010 in pendidikan

Membangun manusia Indonesia adalah membangun masyarakat yang berkarakter dan memiliki pemikiran positif yang dibangun sejak usia dini. Pendidikan karakter akan lebih cepat ketika didukung oleh pemerintah dan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional.

Hal itu diungkapkan budayawati Prof Conny R Semiawan dalam diskusi di Komisi C Simposium ‘Restorasi Indonesia’ Nasional Demokrat di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (2/6).

Menurut Conny, pendidikan karakter harus dibangun sejak janin masih ada di dalam kandungan. Kemudian dilanjutkan oleh sistem pendidikan untuk membangun karakter kebangsaan. Sehingga, lanjutnya, akan terbentuk pribadi manusia Indonesia yang berkomitmen untuk tidak melakukan perbuatan demi kepentingan yang hanya menunjang kesejahteraan segelintir elite saja.

“Harus ada evaluasi juga atas penguasa saat ini. Penguasa sekarang lebih mengacu pada pemikiran to have’ bukan to be. Ada udang di balik batu,” cetus Conny.

Pendidikan karakter sejak dini, tambahnya, agar karakter menjadi pola pikir yang dimulai dari diri sendiri. Sehingga manusia yang memiliki sifat-sifat kemanusiaan dan juga kebinatangan, bisa menekan sifat kebinatangannya itu tidak muncul ke permukaan.

Dia menyebutkan, dengan masuknya pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah akan mempercepat sosialisasi pendidikan karakter. Termasuk dengan melakukan sosialisasi kepada para orang tua muda karena pendidikan karakter tidak hanya dilakukan di sekolah, tapi juga dari rumah dan lingkungannya.

Pendidikan karakter, ungkapnya, akan memproses sifat-sifat kemanusiaan, memunculkan keikhlasan, dan menonjolkan kebajikan. Pendidikan karakter ini sangat penting karena pembentukan karakter paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan, selain faktor genetis bawaan.

Pendidikan karakter pun harus terjadi dengan cara disengaja dan menjadi gran design dari Kementerian Pendidikan Nasional. Walaupun secara prinsip psikologis, anak-anak muda yang dididik karakternya harus tidak merasa bahwa pemerintah sedang mendidik karakternya. “Karakter yang baik akan menciptakan lingkungan sosial yang harmonis, walaupun kita harus menghadapi manusia yang berbeda-beda,” jelas Conny.

Sementara Romo Franz Magnis Suseno yang juga menjadi pembicara menyatakan sejak dulu bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkarakter. Bahkan dalam dunia pendidikan luar negeri, mahasiswa Indonesia selalu menjadi penengah dari konflik yang terjadi antar mahasiswa.

Tapi kini, ujarnya, karakter bangsa terancan karena konsumerisme hedoniatik yang menghinggapi para pemimpin bangsa. Akibatnya banyak yang lupa pada bangsanya sendiri. “Contoh sederhana adalah masalah Lumpur yang tidak pernah bisa diselesaikan,” tegas Romo Franz.

Karakter, ungkap Romo Franz, adalah sikap seseorang yang memiliki keyakinan dan bertindak atas keyakinannya. Ia mengkhawatirkan tergerusnya karakter bangsa yang tertuang dalam falsafah Pancasila oleh banyak faktor. Misalnya keterbukaan dan toleransi yang terancam oleh fanatisme dan kepicikan. Termasuk tekad untuk selalu membawa diri secara beradab yang terancam oleh kebiadaban dan kekerasan.

Komentar
  1. annisa suliastini mengatakan:

    nampaknya materinya sangat menarik, dan harus dikaji lebih lanjut dan mendalam..
    agar wawasan kita bertambah ..
    salam pendidikan untuk peradaban..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s